Ansan – Home of Settled Foreigner

Hari kedua

pasar di ansan
pasar di ansan

Dihari kedua ini saya mungkin lebih tertarik untuk menceritakan suasana sore hari di kota ansan. Kebetulan saya sampai di ansan sekitar jam 5 sore, namun sore itu langit masih cerah, karena memang jam di korea lebih cepat 2 jam dari waktu Indonesia bagian barat. Ya, kira kita kita berada di zona waktu bagian timur kalo masih di Indonesia. Matahari sore itu masih sangat cerah, namun suhu disana sangat dingin sekali, saya lihat di jam bahwa suhu menunjukan sekitar 12 derajat celcius. Memang sekitar bulan mei ini adalah musim sehabis musim salju berakhir. Saya diceritakan bahwa apabila saya dating pada bulan januari – maret, maka niscaya saya tidak akan bisa tahan dan bisa langsung beradaptasi, karena bulan bulan tersebut, korea masih musim salju. Seharusnya pada bulan ini, mei, kita masih bisa sedikit melihat bunga bunga sakura tumbuh di sepanjang jalan, namun tidak banyak bunga mekar yang bisa saya lihat, walau sebenarnya saya masih melihat adanya bunga yang masih mekar, tapi jumlahnya kalah banyak daripada saat musim sakura. Sehabis turun dari halte bus, ohya sedikit cerita lagi mengenai bus, semua bus yang ada di korea ini hanya berhenti di setiap halte yang ada, jadi apabila kita mau turun di suatu tempat kita haruslah turun di halte terdekat di tempat tersebut, jadi jangan harap kita bisa turun seenaknya di suatu tempat seperti halnya di bandung, waluapun itu bus umu sekalipun. Dari halte saya jalan melalui sebuah terowongan penyebrangan jalan, terowongan ini dikenal dengan terowongan ansan, yah mungkin kenapa terowongan ini dinamakan demikian karena memang terowongan ini beradi tepat di tengah-tengah kota ansan dan merupakan terowongan untuk menyebrang jalan menuju kesisi lain jalan tersebut. Didalam terowongan saya tidak begitu melihat aura korea, tapi malah justru ada aura Indonesia, karena sepanjang terowongan itu yang saya lihat banyak sekali penjual kaki lima layaknya seperti diindonesia, dimanapun ada lapak, ya jualan.

trotoar di ansan
trotoar di ansan

Saya jadi berfikir, apakah budaya korea pun sama dengan di Indonesia? Sebuah pertanyaan pertama yang muncul takkala saya memang langsung terjun dan berbaur dengan masyarakat sekitar, maklum selama dibandara saya sama sekali tidak melihat budaya korea yang sebenarnya. Saat saya melintas di terowangan tersebut,memang banyak yang berjualan, tapi saya masih kurang paham karena lapak lapak yang mereka dirikan sangat rapi, walaupun harus menggunakan lantai jalan sebagai lapak. Saya melihat banyak pedagang sayuran dan juga pedagang sepatu, bahkan banyak juga yang berjualan pakaian layaknya pasar baru di Indonesia. Namun pemandangan terowongan tetap membuat saya terkesima, karena didinding sebalah kanan terowongan, dimana sisi tidak ada yang berjualan, dindingnya dihiasi oleh semacam lukisan dari batu yang diukir, dimana lukisan tersebut jika saya perhatikan adalah lukisan tentang kerajaan korea dimasa lampau, mungkin pemerintah setempat ingin sekali menunjukan bahwa sejarah haruslah tetap di ingat, agar generasi masa yang akan dating tetap menghormati sejarah dan budaya yang telah laman dibangun, itu Cuma pikiran saya saja. Ohya satu lagi yang membanggakan adalah hampir disepanjang dinding terowongan tidak ada sama sekali yang namanya vandalism. Dinding dinding semuanya bersih konclong dan terawatt, bahkan famflet jualanpun tidak ada sama sekali. Sungguh menakjubkan menurut saya. Masyarakat di korea mamang saadr akan keindahan. Keluar dari terowongan, kami langsung menuju kios ponsel untuk mengurus kartu sementara saya selama di korea, semua urusan mengenai ini om saya yang mengatur. Sebelumnya saya pun pernah cerita bahwa siempunya kios ponsel tersebut sangat mahir Bahasa Indonesia karena dia adalah mantan TKI yang menikah dengan pemuda korea, jadi tidak akan saya bahas lagi. Yang akan saya ceritakan disini adalah saya yang berada diluar kios ponsel karena sudah tidak sabar untuk melihat korea lebih dekat, tepatnya melihat kota ansan lebih dekat. Sayapun mulai mencoba mengeksplor sedikit sedikit tempat, walaupun saya tidak berani jauh-jauh dari tempat kios ponsel tadi, bukan apa-apa, selain cuaca dingin yang mulai membuat saya kedinginan, om sayapun berpesan untuk tidak pergi jauh-jauh dulu, karena jika berpisah akan sulit berkomunikasi karena nomer korea saya sedang diurus, dan apabila saya menggunakan nomer Indonesia, maka roaming yang harus saya bayar sangatlah malah sekali. Bayangkan saja, untuk aktivasi paket internet, saya harus membayar 150.000 rupiah untuk

penjual buah di ansan
penjual buah di ansan

pemakaian satu hari, yah satu hari, SATU HARI, sungguh sangat mahal bukan? Dan akhirnya sayapun hanya jalan jalan sekitar kios ponsel saja. Satu yang menarik perhatian saya adalah para penjual bahan mentah disepanjang gang yang letaknya tidak jauh dari kios ponsel. Buah-buahan yang dijual di sini sama layaknya buah-buahan yang ada di Indonesia, namun entah kenapa, ukuran dari buah-buahan ini sagat besar besar sekali, jujur saya bukanya tertarik untuk membeli, justru saya malah merasa kenyang duluan hanya dengan melihatnya saja. Misalkan saya buah pear yang dijual disini, di Indonesia, mungkin ukuran nya hamper sama dengan satu kepal tangan orang dewasa, namun disini, ukuran buah pear bisa sebesar buah melon yang dijual di Indonesia. Menakjubkan.

-cont

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s