Pyeongtaek-si – South Korea

Featured image
keluarga baru dalam perjalanan

Pengalaman membuat kita lebih dewasa. Mungkin itu yang sedang saya rasakan saat saya membuat catatan ini. Saya mulai berfikir, bahwa pengalaman terutama pengalaman saya dalam perjalanan ke suatu tempat justru menjadikan saya berani dalam bertindak. Perjalanan saya menuju suatu lokasi yang kadang tidak terfikirkan oleh orang lain justru membuat saya bisa menakar sejauh mana keberanian saya itu ada. Banyak orang yang menilai saya gila saat saya melakukan trip bermotor ke bali. Jika ada partner mereka bilang itu biasa, tapi hal ini menjadi dibilang gila karena saya melakukannya seorang diri. Jujur, perjalanan ini bukan ajang menunjukan kesombongan diri bahwa saya mampu, bukan pula ajang untuk pamer dan minta dipuji oleh orang sekitar, tp justru perjalanan ini adalah pembuktian pada diri sendiri, sejauh mana saya berani untuk bisa pergi ke suatu tempat dengan seorang diri. Dari perjalanan ini saya melihat kemandirian saya diuji, dimana saya sama sekali tidak bisa mengandalkan orang yang saya kenal pada saat saya berada jauh dari tempat saya dilahirkan. Dan dari perjalanan itu pun pada akhirnya saya bisa merasakan ketulusan dari orang orang yang mau membantu saya. Mungkin ini menjadi hal yang sepele, dimana pada akhirnya saya sadar, bahwa masih banyak orang baik yang mau membantu kita apabila kita juga bisa berbuat baik pada orang di sekitar. Mungkin semesta mengajarkan sesuatu yang kadang tidak masuk dalam nalar kita, namun saya selalu yakin bahwa takkala saya berbuat baik pada setiap orang, baik yang saya kenal ataupun tidak saya kenal, maka niscaya suatu hari nanti kebaikan saya akan dibalas oleh yang maha kuasa.

Lain halnya saat saya memberanikan diri untuk pergi seorang diri ke gunung rinjani. Banyak teman-teman saya yang meragukan saya bisa pergi ke rinjani seorang diri. Naik rinjani memang sudah saya niatkan setaun sebelumnya, tadinya saya berniat untuk pergi bersama teman teman, namun karena saat itu saya masih ada kontrak kerja, jadi saya harus mengurungkan niat saya untuk menaiki rinjani bersama teman teman. Pelajaran yang saya dapat saat naik rinjani adalah kesetiakawanan. Saat itu saya mencari teman seperjalanan yang mau gabung mendaki bersama saya. Mereka tidak menyangka bahwa saya adalah orang yang supel, orang yang mudah bergaul, bahkan mereka sendiri yang mencap saya sebagai orang gila yang baru mereka temui sepanjang perjalanan mereka. saya melihat kedua teman saya ini sangat setia kawan. Walaupun saya teman baru, tapi mereka rela berbagi dengan saya. Misalkan saja saat itu saya pun diajak untuk ikut bergabung dirumah teman meraka untuk menginap sebelum mendaki rinjani, dan lagi saat perjalanan, kerap meraka tidak canggung untuk menolong saya apabila saya mengalami kesulitan. Kesetiakawanan terhadap teman yang benar benar baru bertemu memang terkadang sulit dilakukan, tapi saya rasa kita semua sebagai manusia memiliki insting untuk bisa mempermudah itu semua kan?

Sedikit curhatan dimalam hari

Pyeongtaek-si, 06 mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s